Postingan

Rintik Asmara

Embun setelah hujan malam pagi menjelma menjadi kelam harapan perlahan tenggelam kalbu yang kini menghitam Fajar di pertengahan libra menerpa segala kabut derita kelembutan disetiap sorot mata meyakinkanku akan hadirnya cinta Pertemuan di ujung khayalan bercengkrama di tengah angan angan ku hanya dapat menyaksikan mimpi dalam ketandusan Menunggu pada jarak tak menentu menghilang ditelan waktu bukan ancaman bagiku namun kebahagiaan semu

Penyesalan Jiwa

Skenario yang tercatat dengan rapi Timbulnya kesalahan bagaikan sebuah mustahil Takdir dari seorang gadis Membuat siapun menangis Hatinya menggema ketika membaca surat itu Pikirannya terombang ambing seperti di tengah badai Sekali lagi gadis itu berperan Membuat siapapun berduka Rangkaian kisah di ujung gemuruh Mencabik-cabik setiap amarah Dia adalah gadis yg tersiksa Tersiksa karena kelalaiannya

Sandiwara Topeng

Sadisnya gelak tawa merampas kebahagiaan Luapan amarah menyesakkan celah Tusukan pilu mengundang goncangan Pesta di tengah kesengsaraan Memutari gelombang kemunafikan Cerita dibalik ilusi Mengubah nada menjadi tangisan Misteri dalam rahasia Terungkap sudah  Kebisingan yang mengadu Memberitahu kekejaman hidup.

Dunia Kosong

Secercah cahaya, menerangi gelapnya sukma.  Terangnya rembulan, menyoroti kuatnya pilu.  Kala itu malam terasa gemerlap.  Hancurkan! Udara kering dan dingin, menerpa gigihnya sang dinding. Ombak pena, melukiskan bentangan cakrawala. Sentuhan hangat,  bagai penghapus derita.  Kini kau bebas, Terdengar suara yang begitu merdu.

Jasad di Kala Senja

Mega kemerahan, menembus kedamaian dalam lubuk hati. Daun berguguran, menemani setiap langkah kaki. Hembusan angin, mengingatkan kenangan yang tercipta.  Tidak mungkin! Nadi yang tak lagi berdenyut, pandangan yang kini tertutup, peristiwa alami yang terhenti, tergambar dalam bola matanya. Gadis yang malang, "Dapatkah kau mendengar melodi yang sesungguhnya?" bisik seorang pemuda dalam bayang-bayang kegelisahan.